Perkembangan Moral

23 Sep

1. PENGERTIAN MORAL
Istilah moral berasal dari kata Latin “mos” (Moris), yang berarti adat istiadat, kebiasaan, peraturan/niali-nilai atau tata cara kehidupan. Sedangkan moralitas merupakan kemauan untuk menerima dan melakukan peraturan, nilai-nilai atau prinsip-prinsip moral.
Banyak ahli menyumbangkan pemikirannya untuk mengartikan kata moral secara terminologi. Menurut Dagobert D. Runes, moral adalah hal yang mendorong manusia untuk melakukan tindakan-tindakan yang baik sebagai “kewajiban” atau “norma”. Sedangkan menurut Helden (1977) dan Richards (1971), moral adalah suatu kepekaan dalam pikiran, perasaan, dan tindakan dibandingkan dengan tindakan-tindakan lain yang tidak hanya berupa kepekaan terhadap prinsip-prinsip dan aturan-aturan. Tidak jauh berbeda dengan Atkinson (1969) yang menyatakan moral merupakan pandangan tentang baik dan buruk, benar dan salah, apa yang dapat dan tidak dapat dilakukan. Perilaku tak bermoral ialah perilaku yang tidak sesuai dengan harapan yang sesuai dengan harapan sosial yang disebabkan dengan ketidaksetujuan dengan standar sosial atau kurang adanya perasaan wajib menyesuaikan diri. Sementara itu perilaku amoral atau nonmoral adalah perilaku yang tidak sesuai dengan harapan sosial, akan tetapi hal itu lebih disebabkan oleh ketidakacuhan terhadap harapan kelompok sosial dari pada pelanggaran sengaja terhadap standar kelompok.

2. PENGERTIAN PERKEMBANGAN MORAL
Menurut Santrock (1995) Perkembangan moral adalah perkembangan yang berkaitan dengan aturan dan konvensi mengenai apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia dalam interaksinya dengan orang lain. Perkembangan moral adalah perubahan-perubahan perilaku yang terjadi dalam kehidupan anak berkenaan dengan tatacara, kebiasaan, adat, atau standar nilai yang berlaku dalam kelompok sosial.
Ada beberapa teori yang membahas tentang perkembangan moral, diantaranya:
a. Perkembangan moral menurut Teori Belajar Sosial
Menurut teori belajar sosial, perkembangan sosial merupakan proses yang dipelajari selama proses interaksi sosial seseorang dengan orang lain. Perkembangan sosial berlangsung melalui proses peniruan, latihan dan penguatan.
Menurut Bandura perkembangan moral berlangsung melalui interaksi seseorang dengan lingkungan yang menyediakan konten moral. Moral seseorang akan berkembang dengan baik, apabila berinteraksi dengan orang dewasa yang menunjukkan tingkah laku moral dalam melakukan tindakan sehari-hari.
Oleh karena itu, interaksi yang bermoral dengan orangtua dan guru khususnya serta orang dewasa umumnya sangat penting pengaruhnya untuk mengembangkan moral remaja.
b. Perkembangan moral menurut Teori Kognitif
Pelopor teori Kognitif adalah Jean Piaget yang menekankan bahwa perkembangan kognitif erat kaitannya dengan perkembangan moral remaja. Oleh karena itu, perkembangan moral remaja tergantung pada perkembangan kognitifnya. Piaget berpendapat bahwa terdapat hubungan yang sejajar antara perkembangan kognitif dengan perkembangan moral remaja.

3. TAHAPAN PERKEMBANGAN MORAL
Tahapan perkembangan moral adalah ukuran dari tinggi rendahnya moral seseorang berdasarkan perkembangan penalaran moralnya seperti yang diungkapkan oleh Lawrence Kohlberg. Tahapan tersebut dibuat saat ia belajar psikologi di University of Chicago berdasarkan teori yang ia buat setelah terinspirasi hasil kerja Jean Piaget dan kekagumannya akan reaksi anak-anak terhadap dilema moral. Ia menulis disertasi doktornya pada tahun 1958 yang menjadi awal dari apa yang sekarang disebut tahapan-tahapan perkembangan moral dari Kohlberg. Adapun tahapan-tahapan itu adalah:
a. Tahapan Pramoralitas
(1) Periode 0
Pemahaman anak tentang baim dan buruk, benar dan salah ditentukan oleh akibat fisik yang ditimbulkan oleh tindakan itu seperti hukuman.
(2) Periode 1
Suatu tingkah laku bermoral bagi anak kalai tingkah laku itu oatuh mengikuti kemauan orang berkuasa seperti orangtua dan guru atau tingkah laku yang mendapatkan penghargaan fisik atau material, sedangkan tingkah laku yang tidak bermoral kalau membantah dan mendapat hukuman dari yang berkuasa terhadap anak.
(3) Periode 2
Anak memahami bahwa tingkah laku benar, salah, baik, pantas tergantung kepada tingkah laku itu memuaskan, menimbulkan kenikmatan pada diri sendiri atau orang lain (hedonisme).
b. Moralitas dianggap kesamaan peranan yang biasa
(1) Periode 3
Anak memahami bahwa tingkah laku moral adalah mengakui aturan-aturan yang telah ditentukan oleh orang dewasa. Anak mulai mengerti bahwa tingkah laku salah namun tidak sengaja atau direncanakan sebelumnya bukan merupakan tindakan yang melanggar hukum.
(2) Periode 4
Ditandai oleh pemahaman anak bahwa tingkah laku yang baik atau benar adalah mentaati aturan dan hukuman-hukuman yang telah disepakati bersama dan menguasai kehidupan masyarakat.
c. Moralitas dengan penerimaan prinsip-prinsip moral
(1) Periode 5
Anak mulai memahami nilai moral dan prinsip-prinsip moral maupun standar kebenaran yang benar dan dapat terjadi pertentangan dengan apa saja yang terjadi atau diterima oleh masyarakat. Pembentukan filsafat hidup sangat tepat untuk membimbing tingkah laku yang bermoral.
(2) Periode 6
Periode ini disebut Kohlberg dengan level postconvensional yang merupakan tingkat perkembangan moral yang tertinggi. Remaja telah menginternalisasi nilai-nilai moral menjadi miliknya sendiri. Pertanggungjawaban secara moral tingkah lakunya terletak pada diri remaja itu sendiri, mereka memahami peraturan dan tata cara yang berlaku di masyarakat haruslah berdasarkan prinsip-prinsip universal.

4. CIRI-CIRI PERKEMBANGAN MORAL PADA ANAK DAN REMAJA
a. Meningkatnya kemampuan kognitif dari berpikir kongkrit menjadi kemampuan berpikir abstrak./formal. Peningkatan kemampuan berpikir berkaitan dengan peningkatan kemampuan bertingkah laku moral. Dengan dicapainya kemampuan berpikir abstrak, kemampuan pemahaman terhadap moralnya meningkat.
b. Remaja memperoleh kemampuan untuk memahami bahwa peraturan itu dibuat atas asas persetujuan semua orang yang bersifat ideal.
Michel (dalam Elida Prayitno: 1992) mencatat ada tiga perubahan yang penting dalam perkembangan moral selama masa remaja, yaitu:
1. Remaja menyadari bahwa yang disebut benar atau salah itu adalah atas pertimbangan keadilan atau kebijaksanaan, bukan atas kemauan orang yang berkuasa.
2. Remaja paham tentang peraturan moral atau agama dan sosial karena telah diperolehnya kemampuyan memahami sesuatu dari sudut pandangan tertentu, sehingga remaja mengerti bahwa moral relatif tidak absolut.
3. Remaja mengalami konflik tingkah laku moral dengan pikiran moral. Tingkah laku moral adalah tingkah laku yang ditampilkan sesuai dengan kriteria moral, sedangkan pikiran moral dan pandangan moral adalah perndapat atau pertimbangan seseorang tentang persoalan moral.

5. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN MORAL
a. Orangtua/guru sebagai model
Menurut Freud (dalam Elida Prayitno: 1992), bail pria maupun wanita meniru tingkah laku orangtua (yang sejenis) adalah karena keinginan untuk menjadi seperti orangtua.
b. Disiplin yang diberikan orangtua
Menurut Hoffman dan Saltztein (dalam Elida Prayitno: 1992), orangtua yang mempergunakan teknik disiplin induksi (memberikan alasan mengapa seseorang boleh atau tidak boleh bertingkah laku tertentu) cenderung menyebabkan perkembangan moral remaja sangat baik, sedangkan penggunaan disiplin berkuasa dan otoriter cenderung menyebabkan perkembangan moral yang rendah.
c. Induksi dengan teman sebaya
Interaksi dengan teman sebaya dan kemampuan bermain peran terjadi karena telah dikuasainyakemampuan “role taking”, yaitu kemampuan memahami sesuatu atau peristiwa dari sudut pandangan orang lain. Dengan meningkatnya interaksi dengan teman sebaya, maka kemampuan “role taking” pun makin mahir dan sempurna dan ini merupakan jalan bagi perkembangan moral.
6. USAHA GURU DAN ORANGTUA DALAM MENGEMBANGKAN MORAL PESERTA DIDIK
Wilcox (dalam Elida Prayitno: 1992) mengemukakan pendekatan-pendekatan yang dapat digunakan guru di sekolah untuk membantu pengembangan moral remaja, yaitu;
1. Pendekatan klarifikasi nilai
Penggunaan pendekatan ini dapat memberikan pengalaman belajar kepada siswa melalui proses menganalisis secara mendalam dan hati-hati nilai-nilai yang dipilih dalam klarifikasi. Siswa akan tumbuh menjadi probadi yang lebih positif, memiliki tujuan, dan menerapkan nilai-nilai dalam menjalani kehidupannya. Dalam pendekatan ini individu bebas menemukan nilai-nilai dan berpikir analisis yang mengarah pada pemilihan nilai-nilai yang sesuai dengan kehidupan, dapat menginternalisasikan nilai serta menunjukkan komitmen menjalankan nilai yang dipilih dalam kehidupan.
2. Pendekatan dilema moral
Kohlberg dan pengikutnya menemukan bahwa dilema berguna dalam pendidikan moral. Siswa tidak hanya belajar dilema untuk belajar, tetapi juga belajar dilema nyata dari kehidupan sehari-hari. Diskusi-diskusi dilema moral dapat mendorong siswa pada perkembangan moral yang lebih tinggi.
Dalam memberikan pendidikan moral, Duska&Whelen ((dalam Elida Prayitno: 1992) menemukan pedoman praktis yang dapat digunakan oleh guru, yaitu sebagai berikut:
a. Menciptakan kelas sebagai lingkungan yang membuat siswa dapat hidup dan belajar bersama dalam suasana hormat-menghormati dan suasana aman.
b. Beri siswa kesempatan untuk mengemukakan pendapat dalam menentukan aturan-aturan kelas.
c. Pilihlah hukuman yang ada hukumannya dengan pelanggaran.
d. Bedakan antara kritik terhadap pekerjaan yang berhubungan dengan pelajaran dan kritik terhadap tindak tanduk, antara aturan tata tertib sekolah dengan aturan-aturan tentang keadilan dan hubungan antar manusia.
e. Beri kesempatansiswa bekerja dalam kelompok.
f. Dalam bercerita dan berdiskusi tentang pengalaman sehari-hari, bantulah anak-anak memikirkan perasaan orang lain, baik yang benar-benar terjadi maupun yang fiktif.
g. Buatlah permainan peran (role playing) dari kehidupan sehari-hari ataua kejadian-kejadian yang membuat siswa dapat melihatnya dari perspektif mereka.
h. Adakan kesempatan untuk mendengarkan jawaban tiap siswa tentang pertimbangan moral, diskusi dengan menggunakan bahan bacaan, film, dan pengalaman sehari-hari.
i. Janganlah memberi penilaian terhadap perkembangan moral atas dasar tingkah laku setiap orang.

SUMBER:
Elida Prayitno. 1992. Psikologi Perkembangan. Padang: UNP

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: