BENTUK PELAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING UNTUK SISWA BERBAKAT UNGGUL

23 Sep

A. Konsep keberbakatan
1. Pengertian
Berbagai istilah untuk menyebutkan anak berbakat telah lama dipakai dan ditulis baik dalam buku-buku maupun dalam publikasi-pukbilkasi yang lain. Istilah-istilah tersebut sebagaimana disebutkan oleh Buris (dalam Moh. Sholeh Y.A. Ichrom, 1988) antara lain child prodigy, precocious, gifted, highly talented, creative, superior and talented, the able and ambigtious, the academically talented. Berbagai defenisi pun muncul dalam memaknai anak berbakat tersebut, diantaranya Renzuli (dalam Moh. Sholeh Y.A. Ichrom, 1988) mendefenisikan anak berbakat sebagai berikut:
”Gifted merupakan satu interaksi di antara tiga sifat dasar manusia yang menyatu ikatan terdiri dari kemampuan yang umum yang tingkatnya di atas kemampuan rata-rata, komitmen yang tinggi terhadap tugas-tugas,dan kreativitas yang tinggi. Anak gifted dan talented adalah anak yang memiliki atau cakap mengembangkan gabungan ketiga sifat ini dan mengaplikasikan dalam setiap tindakan yang bernilai. Anak-anak yang mampu mewujudkan ketiga sifat itu mensyaratkan memperoleh kesempatan-kesempatan pendidikan yang luas dan layangan-layangan yang berbeda dengan program-program pengajaran yang reguler”.
Sedangkan menurut Marland (dalam Moh. Sholeh Y.A. Ichrom, 1988), bahwa anak yang berbakat adalah mereka yang diidentifikasi oleh para ahli yang memiliki potensi dan prestasi yang unggul, anak-anak ini memerlukan program layanan pendidikan yang berbeda dengan yang dilaksanakan di sekolah regular agar mereka dapat memberikan manfaat bagi diri sendiri dan masyarakatnya.
Kitano (dalam Moh. Sholeh Y.A. Ichrom, 1988) mengklasifikasikan kemampuan anak berbakat tersebut secara potensial, yaitu memiliki:
1. Kecakapan intelektual umum, yaitu memiliki intelegensi tinggi.
2. Mempunyai kecakapan akademik khusus, yaitu memiliki kecakapan dalam bidang-bidang seperti matematika, keilmuan, bahasa atau bahasa asing.
3. Kreatif dan produktif dalam berfikir, yaitu mempunyai kemampuan yang tinggi untuk menggali penemuan-penemuan baru, mengerjakan setiap pekerjaan dengan teliti dan sungguh-sungguh, atau kaya dengan ide-ide.
4. Cakap dengan kepemimpinan, yaitu mempunyai kemampuan yang tinggi untuk menggerakkan orang lain dalam mencapai tujuan bersama.
5. Cakap dalam aktivitas psikomotor, yaitu mempunyai kemampuan yang tinggi dalam bidang atletik, mekanik, atau keterampilan lain yang mensyaratkan koordinasi seluruh kemampuan motorik dengan baik.
Jadi anak berbakat itu adalah individu yang memiliki kemampuan dan potensi yang unggul dibandingkan dengan anak yang biasa, anak berbakat memiliki sikap dan pemikiran yang berbeda dengan anak normal lainnya, oleh sebab itu anak berbakat juga membutuhkan pelayanan yang juga berbeda.
Banyak faktor yang mempengaruhi keberbakatan seorang anak, seperti unsur kebudayaan, bahkan bagi sementara ahli sifat-sifat anak bebakat tersebut bercirikan ”culture bound”(dibatasi oleh batasan kebudayaan). Dengan demikian ada dua petunjuk kunci dalam mengamati dan mengerti keberbakatan tersebut (dalam TIM JBK FIP UNP, 2002), yaitu:
1. Keberbakatan itu adalah ciri-ciri universal yang khusus dan luar biasa yang dibawa sejak lahir maupun yang merupakan hasil interaksi dari pengaruh lingkungan.
2. Keberbakatan itu ikut ditentukan oleh kebutuhan maupun kecenderungan kebudayaan dimana seseorang yang berbakat itu hidup.
2. Karakteristik Anak Berbakat
Beberapa penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa memang ada perbedaan ciri, baik yang menyangkut aspek fisik, aspek sosial ekonomi, maupun aspek latar belakang lainnya atau anak berbakat intelektual dan anak-anak yang mempunyai taraf intelegensi tinggi.
Dari segi intelegensi, anak berbakat adalah anak-anak yang memiliki IQ yang lebih tinggi dan ia mempunyai bakat tertentu dalam satu bidang. Menurut Sutratinah Tirtonegoro (2006: 5), anak berbakat adalah anak yang memiliki IQ minimal 125, berikut Klasifikasi Inteligensi menurut Wechsler (dalam Reni Akbar-Hawadi, 2002):
IQ Klasifikasi % Dalam Populasi
130 ke atas
120 – 129
110 – 119
90 – 109
80 – 89
70 – 79
di bawah 69 Sangat cerdas
Cerdas
Di atas rata-rata
Rata-rata
Di bawah rata-rata
Perbatasan
Keterbelakangan mental 2,2
6,7
16,1
50,0
16,1
6,7
2,2
Adapun mengenai ciri-ciri keberbakatan, Martinson (dalam Utami Munandar, 1982) membuat daftar ciri-ciri anak berbakat sebagai berikut:
1. Membaca pada usia muda
2. Membaca lebih cepat dan lebih banyak
3. Memiliki perbendaharaan kata yang luas
4. Mempunyai rasa ingin tahu yang kuat
5. Mempunyai minat yang luas, juga terhadap masalah ”dewasa”
6. Mempunyai inisiatif, dapat bekerja sendiri
7. Menunjukkan keaslian (orisinalitas) dalam ungkapan verbal
8. Memberi jawaban-jawaban yang baik
9. Dapat memberikan banyak gagasan
10. Luwes dalam berpikir
11. Terbuka terhadap rangsangan-rangsangan dari lingkungan
12. Mempunyai pengamatan yang tajam
13. Dapat berkonsentrasi untuk waktu yang panjang, terutama terhadap tugas atau bidang yang diamati
14. Berpikir kritis, juga terhadap diri sendiri
15. Senang mencoba hal-hal baru
16. Mempunyai daya abstraksi, konseptualisasi, dan sintesis yang tinggi
17. Senang terhadap kegiatan intelektual dan pemecahan masalah
18. Cepat menangkap hubungan-hubungan (sebab-akibat)
19. Berperilaku terarah kepada tujuan
20. Mempunyai daya imajinasi yang kuat
21. Tidak cepat puas dengan prestasinya
22. Peka (sensitif) dan menggunakan filsafat (intuisi)
23. Menginginkan kebebasan dalam gerakan dan tindakan.
Tidak jauh berbeda dengan pendapat sebelumnya, Tuttler, Becker, dan Sausa (dalam Reni Akbar-Hawadi, 2002) mengemukakan karakteristik anak berbakat sebagai berikut:
1. Ingin tahu
2. Tekun dalam mengejar minat dan pertanyaan-pertanyaan
3. Cepat memahami lingkungan
4. Kritis pada diri sendiri dan orang lain
5. Rasa humor tinggi
6. Peka terhadap ketidakadilan pada perseorangan maupun tingkat yang lebih luas.
7. Pemimpin di banyak area
8. Tidak mau menerima pertanyaan, respons, dan penilaian yang dangkal
9. Memahami dengan mudah prinsip-prinsip umum
10. Seringkali bereaksi pada lingkungan melalui media dan lainnya daripada dicetak dan ditulis
11. Melihat hubungan-hubungan diantara gagasan yang berbeda
12. Mengangkat banyak gagasan dari stimulus yang spesifik.
Dari beberapa pendapat di atas, dapat dilihat bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan mengenai ciri-ciri keberbakatan yang diteliti oleh para ahli tersebut, semuanya sepakat bahwa ciri utama dari keberbakatan tersebut didominasi oleh kecerdasan intelektual dan kecerdasan di bidang lain.
B. Permasalahan yang Dialami oleh Anak Berbakat
Kehidupan anak-anak berbakat bukan tanpa masalah, baik untuk keluarganya, sekolahnya maupun dirinya sendiri yang diakibatkan oleh keberbakatan yang dimilikinya. Setidaknya ada 5 masalah yang mungkin timbul, yaitu:
1. Keberbakatan anak-anak tidak selalu mudah kita kenali sehingga kita bisa lalai menyediakan lingkungan yang kondusif untuk pertumbuhannya. Dibalik perilaku kritis seorang anak mungkin tersimpan intelegensia verbal yang tinggi. Dibalik kebiasaan anak yang asyik berimajinasi sendirian barangkali tersimpan kecerdasan visual yang luar biasa.
2. Sebagian anak-anak berbakat memiliki masalah dengan kehidupan emosi mereka. Secara intelegensia mereka melampaui teman-teman sebaya, mereka berpikir dan berpendapat seperti orang dewasa namun emosi mereka masih kanak-kanak. Disintegrasi antara intelektual dan emosi tentunya menciptakan sebuah masalah besar tersendiri bagi mereka. Bukanlah kesalahan mereka bila mereka mengalami kesulitan ini. Oleh karena itu adalah sangat pantas untuk orang tua dan para pendidik untuk menolong mereka dengan cara memahami mereka terlebih dahulu.
3. Masalah dengan lingkungan dan teman sebaya. Perbedaan intelektual dengan teman sebaya juga menciptakan masalah hubungan antar manusia dengan lingkungan teman sebayanya. Sebagai contoh anak-anak berbakat cenderung berpikir kritis; mereka memiliki harapan yang tinggi, kritis terhadap diri sendiri dan juga mengevaluasi orang lain yang kemudian menimbulkan kesan tidak toleran terhadap yang lain. Teman-teman sebayanya mungkin akan memberi label sebagai seorang anak yang perfeksionis.
4. Mereka mungkin akan menimbulkan kesulitan dengan guru-guru mereka. Kemampuan mereka untuk berpikir secara konsep, abstrak dan senang melakukan pemecahan masalah menyebabkan anak-anak ini mungkin akan menolak hal-hal detail-detail, menolak latihan-latihan dalam bentuk drilling atau bahkan mempertanyakan prosedur mengajar. Mereka bisa dianggap membantah.
Permasalahan anak-anak berbakat menjadi makin kompleks ketika keberbakatannya hadir bersama-sama dengan kelemahan khusus misalnya anak-anak yang memiliki kecerdasan visual yang luar biasa (mereka belajar dengan cepat bila melalui gambar) namun bisa saja mereka sangat lemah dalam auditory sequential processing sehingga belajar melalui kata-kata akan membosankan bagi mereka. Anak-anak seperti ini biasanya tidak suka repetisi, tampak kurang perhatian, lemah dalam menghafal namun sesungguhnya mereka bisa sangat kreatif.
Dalam konseling, terdapat beberapa isu anak berbakat yang merupakan masalah dalam layanan konseling, seperti yang diutarakan oleh Whitesell (1990), yaitu:
1. Pemikir yang divergen. Anak berbakat cenderung jujur tentang kompleksitas isu, menekankan pada keinginan yang kuat untuk memahami, memperoleh bantuan membangun perasaan diri yang lebih kuat, memperoleh bantuan untuk belajar mendengar terhadap suatu keadaan yang terfokus, dan membutuhkan dorongan untuk membuat hubungan yang positif.
2. Excitability. Anak berbakat akademik membutuhkan kemampuan self regulation dan sdelf control, memelihara tingkat dorongan berbuat yang nyaman, menemukan kepuasan terhadap upaya-upaya yang kreatif dan yang bernuansa intelektual.
3. Sensitivity. Anak berbakat akademik memiliki kebutuhan untuk tahu, berkenaan dengan orang yang tidak bertanggung jawab akan sesuatu, bagaimana menerima dan memnberi hadiah kepada orang lain, menentukan hambatan akan perasaan, dan bagaimana menentukan jarak dirinya dengan orang lain secara fisik atau mental.
4. Perseptiviness. Anak berbakat akademik belajar kapan dan bagaimana mempercayai persepsinya sendiri, bagaimana dapat dipercaya, bagaimana menghadapi perbedaan pendapat.
5. Entelechy. Anak berbakat akademik secara positif menunjukkan komitmen secara intens kepada orang lain dan ide-idenya, simpatik, empatik, dan terlibat dalam penyebab-penyebab yang bersifat lokal atau global.
Selain itu, Colangelo (dalam Colangelo and Davis, 1991), juga mengemukakan sejumlah isu penting dalam konseling, yaitu:
1. Self-concept dipandang sebagai suatu struktur kognitif yang kuat yang mampu memediasi interpretasi dan respon terhadap kejadian dan perilaku yang diarahkan kepada individu.
2. Counseling with parent. Konseling dengan orangtua diperlukan karena tidak semua orangtua memiliki informasi yang cukup tentang perkembangan kebutuhan perkembangan anak berbakat. Orangtua perlu memberikan dukungan untuk anak berbakat, baik berkenaan dengan pemenuhan kebutuhan emosional, stimulasi intelektual, maupun pengalaman edukasinya.
3. Underachievement. Untuk menghadapi anak berbakat yang underachiever sangat berdampak kurang positif dan merugikan sekali terhadap anak berbakat, maka sangat diperlukan pendekatan terhadap guru dan orangtua.
Jika memperhatikan isu-isu dan masalah-masalah tersebut, sungguh kompleks persoalan anak berbakat akademik, sehingga kebutuhan layanan konseling merupakan suatu yang mutlak. Oleh karena itu tidaklah sepenuhnya benar bahwa di sekolah-sekolah favorit, kebutuhan konseling menjadi tidak sepenting dibandingkan dengan kebutuhan konseling di sekolah biasa yang bukan favorit.
C. Bentuk Pelayanan bagi Anak Berbakat
1. Pelayanan di Bidang Pendidikan
Secara umum dapat dikatakan bahwa kesempatan untuk mendapatkan pendidikan yang sebanding dengan potensi adalah hak setiap manusia. Reni Akbar-Hawadi (2002) menyatakan bahwa anak berbakat mempunyai kemampuan yang kuat untuk menggunakan dan mewujudkan kemampuannya yang unggul dalam bidang tertentu. Hal ini menurut Semiawan dan Munandar (dalam Reni Akbar-Hawadi, 2002) disebabkan oleh anak berbakat intelektual memiliki minat intelektual dan perspektif masa depan yang jauh dari rata-rata orang. Mereka juga mempunyai kemampuan dan kecepatan belajar yang tidak sama. DeHaan dan Havighurst (dalam Reni Akbar-Hawadi, 2002) yang menduga bahwa di dalam masyarakat ada sekitar lima persen anak berbakat intelektual disiapkan untuk pekerjaan yang membutuhkan tingkat konseptualisasi tinggi, untuk dapat menjawab kemajemukan problematika dalam masyarakat.
Sedangkan John Fredrich Feldhusen (dalam Reni Akbar-Hawadi, 2002) menyebutkan perlunya anak berbakat intelektual diberikan pendidikan khusus dengan alasan kebutuhan aktualisasi diri, apa yang kita upayakan untuk anak berbakat adalah agar bakat mereka berkembangan sebaik mungkin dalam segala bidang yang mereka punyai, sehingga aktualisasi diri mereka pun akan tercapai.
Pakar lain, Fetterman (dalam Reni Akbar-Hawadi, 2002) lebih melihat bahwa pendidikan khusus untuk anak berbakat akan memberikan kontribusi yang sangat banyak, anak berbakat mewakili satu kekayaan terbesar dari setiap masyarakat dan merupakan bagian dari spirit intelektual dan semangat untuk masa depan
Dengan demikian, pendidikan khusus untuk anak berbakat akan memberikan kontribusi yang sangat besar bukan saja untuk dirinya, namun juga untuk masyarakat di sekitanya.

a. Kelas dan Sekolah Unggul
Anak-anak berbakat membutuhkan strategi pembelajaran tersendiri. Menurut Kitano (dalam Moch. Soleh. Y.A. Ichrom, 1988), sedikitnya terdapat 3 strategi utama, yaitu akselerasi, pengayaan (enrichment) dan pengelompokan (grouping).
1) Akselarasi
Dalam strategi akselerasi dapat dilakukan pendekatan berikut ini:
(a) Masuk sekolah di usia lebih muda (early entrance)
Sekolah mengijinkan anak berbakat untuk masuk kelas 1 SD pada usia yang lebih muda dibandingkan usia standar karena secara akademis intelektual memiliki kemampuan itu. Hal yang patut diperhatikan dalam pendekatan ini adalah sejauh mana kematangan emosional anak tersebut untuk mampu bergaul dengan mereka yang lebih tua usianya.
(b) Lompat kelas (Grade Skipping)
Anak berbakat diberi kesempatan untuk lompat kelas sehingga secara keseluruhan dapat menyelesaikan pendidikan lebih cepat.
(c)Perkembangan Berkelanjutan (Continous Progress)
Sekolah memberi kesempatan pada anak-anak berbakat untuk melanjutkan pelajarannya untuk subjek-subjek tertentu mendahului teman-teman sekelasnya secara berkelanjutan tanpa harus menunggu teman-temannya ataupun mengikuti standar kelas yang ada.
Ada 2 cara melaksanakan percepatan ini yakni:
• Meloncatkan anak pada kelas-kelas yang lebih tinggi (skipping). Sesuai dengan keadaannya di mana usia mental (mental age) pada anak berbakat lebih tinggi dari usia sebenarnya (cronological age), maka mudah timbul perasaan tidak puas belajar bersama dengan anak-anak lain seumurnya.
• Percepatan yang diberikan kepada anak berbakat untuk menyelesaikan bahan pelajaran dalam waktu yang lebih singkat sesuai dengan kemampuannya yang istimewa.
2) Pengayaan (enrichment)
Secara garis besar sekolah mengadakan program pembelajaran yang berbeda atau memberi kesempatan untuk memperdalam bidang studi tertentu di luar jam pelajaran. Guru dapat memberikan pembelajaran yang berbeda kepada anak-anak berbakat dengan cara memberi tugas yang lebih kompleks yang menuntut cara berpikir tinggi dan pemecahan masalah. Berbagai pendekatan praktis berikut ini dapat dilakukan oleh sekolah untuk membantu anak-anak berbakat.
(a) Program khusus (Pull-out Programs)
Dalam program ini anak-anak berbakat dikumpulkan dengan teman-temannya yang memiliki tingkat keberbakatan yang sama di luar kelas regular. Mereka mendapatkan mentor khusus dan berkumpul dengan teman-teman yang sama untuk belajar bersama, mendapatkan materi yang lebih dalam dan tantangan yang lebih besar.
(b) Program Suplemen
Program suplemen dilakukan diluar dilakukan di akhir pekan ataupun selama masa liburan. Topik-topik dalam program suplemen disesuaikan dengan jenis keberbakatan anak yang ada di sekolah. Itu bisa berkaitan dengan seni kreatif, olahraga, matematika, IPA ataupun kepemimpinan.
(c) Menyediakan Mentor
Dalam program sekolah mengambil inisiatif untuk memperkuat minat anak-anak berbakat dengan mempertemukan mereka dengan orang dewasa yang memiliki prestasi dalam bidang tersebut. Sekolah menghadirkan para mentor ini untuk berdiskusi, memberikan inspirasi, bimbingan dan menyedikan diri untuk menjadi teman anak-anak berbakat. Mereka yang menjadi mentor biasanya adalah mereka yang memiliki minat, reputasi dan keterampilan khusus.
3) Pembedaan (diffrentiation)
Keberbakatan dalam diri anak-anak berbakat memang membutuhkan pembedaan dari sisi bahan pelajaran, proses pembelajaran dan hasil akhir yang dapat dituntut dari mereka. Sekolah dapat melakukan insiatif-inisiatif berikut ini:
(a) Kurikulum yang dibuat kompak (Compacting Curriculum)
Anak-anak berbakat dijinkan untuk mengikuti program pembelajaran yang berkaitan dengan bidang studi tertentu dengan lebih cepat. Ini berarti mereka diijinkan untuk tidak mengikuti jam-jam tertentu dan dapat menggunakan waktu untuk mempelajari hal yang lebih kompleks dalam bidang studi.
(b) Pengelompokan berdasarkan kemampuan
Anak-anak dengan keberbakatan yang sama pada saat belajar mata pelajaran tertentu. Misalnya pada saat belajar bahasa terdapat satu kelas untuk mereka dengan yang memiliki kemampuan yang lebih tinggi dari kebanyakan teman-teman sebaya dalam bidang tersebut.
(c) Pengelompokan yang fleksibel
Ini dapat dilakukan ketika guru memberikan tugas kepada anak-anak dalam satu kelas. Guru dapat mengelompokkan anak berdasarkan keberbakatannya dan dapat juga memberikan tingkat penugasan yang berbeda.
(d) Grup Kluster (Cluster Grouping)
Sekolah mengelompokkan anak-anak berbakat bukan hanya dalam mata pelajaran tertentu saja namun mereka dikelompokkan dalam kelas yang sama selama tahun ajaran. Jadi terdapat kelas untuk mereka yang dalam kelompok berbakat matematika, bahasa ataupun IPA misalnya.
(e) Pendidikan dalam kelompok khusus (special grouping segregation)
Ada beberapa kemungkinan untuk melaksanakan ini, yakni:
• Model A
Model ini berupa anak berbakat mengikuti secara penuh acara di sekolah dan setelah itu memperoleh pelajaran tambahan dalam kelas khusus. Waktu belajarnya bertambah dan mata pelajaran dasar atau yang berhubungan dengan kemampuan khusus (misalnya matematika) ditambah.
• Model B
Pada model ini anak mengikuti kelas biasa tetapi tidak seluruhnya (bisa 75%, 60%, 50%) dan ditambah dengan mengikuti kelas khusus. Jumlah jam pelajaran tetap dan hal ini menguntungkan anak sehingga ia masih mempunyai waktu untuk melakukan dalam mengembangkan aspek-aspek kepribadiannya. Keuntungan lain ialah jumlah jam belajar yang cukup lama di kelas khusus (meskipun mungkin kelas mini) masih memperoleh kesempatan bersaing dengan teman-teman yang mempunyai potensi berbeda.
• Model C
Pada model ini semua anak berbakat dimasukkan dalam kelas secara penuh. Kurikulum dibuat secara khusus demikian pula guru-gurunya. Keuntungan pada model ini ialah mudah mengatur pelaksanaannya dan pada murid sendiri merasa ada persaingan dengan teman-temannya yang seimbang kemampuannya dan jumlah pelajaran serta kecepatan dalam menyelesaikan suatu mata pelajaran bisa disesuaikan dengan keadaan dan kebutuhan anak.
• Model D
Pada model ini, merupakan sekolah khusus yang hanya mendidik anak berbakat. Dari sudut administrasi sekolah jelas mudah diatur. Tapi dari sudut anak banyak kerugiannya karena dengan mengikuti pendidikan sekolah khusus, anak terlempar jauh dari lingkungan sosialnya dan menjadi anggota kelompok sosial khusus dan istimewa.
(f) Individualisasi
Sekolah memberikan kesempatan dan dukungan bagi anak-anak berbakat untuk mengembangkan minatnya dalam bidang keberbakatannya. Mereka mendapat bimbingan untuk memperdalam topik dan memperluas pengetahuan secara individu. Guru membimbing anak-anak berbakat ini untuk menetapkan sasaran, menemukan sumber belajar, membuat jadwal dan mempresentasikan hasil kepada guru dan teman sekelas.
b. Kurikulum Plus
Faktor kurikulum yang meliputi:
1) Isi dan cara pelaksanaan yang disesuaikan dengan keadaan anak (child centered)
2) Perlu ditekankan bahwa kurikulum pada pendidikan khusus hendaknya tidak terlepas dari kurikulum dasar yang diberikan untuk anak lain.
3) Kurikulum khusus diarahkan agar perangsangan-perangsangan yang diberikan mempunyai pengaruh untuk menambah atau memperkaya program dan tidak semata-mata untuk mempercepat berfungsinya sesuatu bakat luar biasa yang dimiliki.
4) Isi kurikulum harus mengarah pada perkembangan kemampuan anak yang berorientasi inovatif dan tidak reproduktif serta berorientasi untuk mencapai sesuatu yang tidak hanya sekedar memunculkan apa yang dimiliki tanpa dilatih menjadi kreatif.

2. Bentuk Pelayanan Bimbingan dan Konseling bagi Anak Berbakat
Dalam konseling anak berbakat, ada beberapa komponen yang dilakukan, yaitu:
a. Konseling Sosial-Pribadi
Berdasarkan hasil penelitian Rochmat Wahab (2003), kecakapan yang berkenaan dengan sosial-pribadi meliputi:
1) Memperoleh kesadaran diri dan kolektif, yaitu memahami diri sendiri sebagai makhluk pribadi dan sosial, untuk itu individu harus tahu karakteristiknya, kemampuan, aspirasi, dan minatnya.
2) Memperbaiki harga diri (self-esteem, self-concept, self-worth)
3) Membuat pilihan sehat dan keputusan efektif, keputusan yang sehat tidak hanya mengendalikan diri sendiri, namun juga orang lain.
4) Manajemen waktu. Kecakapan mengelola waktu sangat memerlukan adanya komitmen diri yang kuat dengan dilandasi tanggung jawab, yang tidak hanya terkait dengan dirinya sendiri, orang lain, bahkan dengan Tuhan.
5) Kemampuan resolusi konflik, merupakan kemampuan pribadi dans ekaligus kemampuan sosial, karena konflik yang terjadi tidak hanya terjadi pada level pribadi, melainkan juga pada level sosial.
6) Keterampilan berkomunikasi,baik secara lisan maupun tertulis, dan kecakapan berkomunikasi non-verbal kebutuhan.
7) Respek terhadap perbedaan individual dan bekerjasama.
8) Keterampilan keterampilan, yaitu kemampuan mengkoordinasikan kerja teman sebayanya dan bawahannya, mendorong hubungan kelompok yang positif, mengarahkan dan membimbing orang lain, mendelegasikan tugas-tugas kerja dan memotivasi orang lain.
Konseling sosial-pribadi dapat dilakukan secara individual atau kolektif, di dalam ruang konseling, kelas, atau di luar kelas, atau bahkan di tempat terbuka lainnya, yang penting pengaturan waktu dan tempat dipilih didasarkan pada pencapaian efektifitas layanan konseling, demikian juga dapat diterima oleh anak berbakat dengan baik dan nyaman.
b. Konseling Akademik
Konseling akademik lebih menitikberatkan pada perencanaan program akademik yang sesuai dengan kebutuhan kognitif siswa. Whitesell (1998) menegaskan bahwa konseling akademik meliputi:
1) Perencanaan akademik. Perencanaan akademik terdiri atas kegiatan yang difokuskan pada penentuan jurusan atau kegiatan ekstra kurikuler yang relevan, mentorship, pemagangan, keterampilan mengikuti tes, keterampilan membuat keputusan, dan keterampilan belajar.
2) Perencanaan pendidian berdiferensiasi. Dalam rangka membuat rencana pendidikan berdiferensiasi, upaya yang perlu dilakukan adalah menentukan tujuan yang bersifat tahunan, menentuan penilaian kemauan, menunjukkan data asesmen yang relevan, menentuka prosedur dan proses belajar, dan membuatkan rekomendasi dari konferensi staf.
3) Alternatif pendidikan. Alternatif pendidikan bisa dikembangkan berbentuk program akselarasi dan pengayaan. Demikian pula perlu mengantisipasi dampak-dampaknya, sehingga pilihannya dapat memberikan kontribusi dalam mengembangkan potensi anak berbakat secara optimal.
4) Perencanaan karir. Perencanaan karir yang penting dilakukan asalah berkenaan dengan memilih bidang jurusan, memilih sekolah atau perguruan tinggi yang sangat cocok dengan individu dan minatnya, memilih jurusan, dan memberikan mentorship.
Konseling akademik bagi anak berbakat dapat dilakukan melalui konseling kelompok atau individual, tergantung mana yang dipandang lebih efektif bagi anak berbakat, sehingga sangat diperlukan kemampuan konselor untuk mengidentifikasi kebutuhan dan jenis konseling yangh diperlukan.
c. Konseling Karir
Kerr (1990) menegaskan bahwa anak berbakat yang memiliki potensi akademik tinggi ternyata tidak selalu lancer dalam perjalanan hidupnya setelah sekolag menuju dunia kerja, karena dipengaruhi oleh sejumlah problem sosio-emosional dan kebutuhan anak berbakat yang berbeda sebagai akibat dari satu atau berbagai kemampuan yang unik.
Berikut ini Davis dan Rimm (1989) mengemukakan dua persoalan penting yang dapat berkontribusi terhadap kemampuan perencanaan karir anak berbakat, yaitu:
1) Multipotensialitas, yaitu kemampuan menyeleksi dan mengembangkan sejumlah pilihan karir sebagai akibat dari berbagai minat, bakat, dan kemampuan yang dimiliki.
Pada tingkat SMP, karena keunggualan anak berbakat dalam beberapa atau semua bidang menyebabkannya sulit untuk menentukan dan membuat keputusan mengenai pilihan karirnya.
Pada tingkat SMA, terjadi penundaan perencanaan dan pembuatan keputusan untuk pemilihan karir karena banyaknya aktivitas dan organisasi yang diikuti
Strategi intervensi yang diyakini relevan bagi anak berbakat antara lain:
(a) Sekolah Menengah Pertama
• Mendiskusikan makna dan nilai kerja.
• Mendiskusikan nilai-nilai keluarga dan masyarakat yang terkait kerja.
• Memberikan kesempatan kerja sesuai dengan minatnya.
• Memberikan pengalaman untuk menghabiskan sedikit waktu dengan orang dewasa yang bekerja di tempat yang paling diminati.
• Mengurangi keterlibatan dalam berbagai kegiatan sosial dan rekreasi dengan memprioritaskan pada beberapa kegaiatan ekstrakurikuler.
(b) Sekolah Menengah Atas
• Mencari tes vokasional yangs esuai dengan konsleor atau psikolog yang professional.
• Mendorong untuk mengadakan kunjungan ke perguruan tinggi atau jurusan-jurusan yang diminati.
• Memberikan kesempatan untuk bekerja secara volunteer secara lebih meluas.
• Mengeksplorasi kemungkinan magang dengan para profesional.
• Memberikan bimbingan yang berbasis nilai yang menekankan pemilihan sebuah karir yang memiliki sarat nilai.
• Mendorong untuk tidak konformis atau tidak memilih karir secara stereotyped.
• Mengekspose kepada siswa model-model karir yang unik.
2) Early emergence, yaitu anak yang memuliki minat karir yang sangat tinggi. Memiliki ide atau komitmen sejak awal terhadap suatu bidang karir merupakan suatu karakteristik umum bagi anak berbakat, karena itu early emergence seharusnya tidak dipandang sebagai masalah pekembangan, melainkan suatu kesempatan yang harus ditindaklanjuti untuk pengembangannya dengan memberikan latihan keterampilan yang perlu untuk meningkatkan kualitas kinerja dari bidang yang diminati. Tanda-tanda early emergence adalah sebagai berikut:
(1) Pada tingkat SMP
Anak berbakat melanjutkan minatnya yang sangat tinggi dan mengekspresikan suatu dorongan yang kuat untuk latihan lanjut dalam bidang keberbakatan dan minatnya. Pengembangan minat sosial tingkat dewasa tertunda karena suatu komitmen terhadap kerja yang merupakan bidang keberbakatannya atau karena tertolak oleh orang lain.
(2) Pada tingkat SMA
Anak berbakat mengembangkan suatu identitas yang kuat berkenaan dengan bidang keberbakatannya. Mereka mengekspresikan suatu dorongan yang kuat akan bantuan perencanaan sebuah karir sesuai dengan bidang yang diminatinya. Suatu dorongan untuk keterampilan tes guna mengikuti kompetisi dengan kelompok sebayanya.
Strategi intervensi mungkin dapat ditawarkan untuk early emergence pada jenjang pendidikan yang berbeda, diantaranya sebagai berikut:
(1) Sekolah Menengah Pertama
• Memberikan dukungan san dorongan selama latihan intensif.
• Memberikan kesempatan sejumlah waktu untuk kerja sendiri.
• Mencari kesempatan untuk latihan bekerja (mengikuti seorang professional sehari penuh) sesuai dengan minatnya.
• Menghindarkan penekanan anak berbakat dari kegaiatan sosial.
(2) Sekolah Menengah Atas
• Melanjutkan dukungan, dorongan, dan waktu untuk sendiri.
• Mencari kesempatan untuk magang dan pengalaman kerja di bidang yang diminati.
• Mencari bimbingan karir dan seorang konselor yang familiar dengan bidang keberbakatannya atau cari seorang professional di bidangnya.
• Membuat suatu rencana detil untuk latihan dan pendidikan yang mengarahkan kepada tujuan karir yang terpilih, mencakup rancangan keuangannya.
• Mengeksplorasi pendidikan di perguruan tinggi atau pelatihan pasca sekolah menengah sejak dini, baik melalui kontak maupun kunjungan.
• Membantu anak berbakat membangun hubungan dengan seorang mentor di bidangnya.
Konseling karir bagi anak berbakat dapat diselenggarakan baik sebagai reaksi atas kebutuhan anak berbakat, maupun sebagai langkah proaktif konselor untuk memfasilitasi anak berbakat dalam pemilihan karir. Konseling karir dapat dilakukan secara individual atau kolektif tergantung pada kebutuhan konseling.

D. Hambatan dalam Pelayanan Anak Berbakat
Dalam melaksanakan pelayanan dan pendidikan bagi anak berbakat, terdapat sebuah mitos dan miskonsepsi yang selalu melekat dalam masyarakat, berikut pendapat para ahli mengenai hal tersebut:
a. Mitos masyarakat bahwa anak berbakat adalah terbentuknya kelas excellence dan elite.
b. French (dalam Reni Akbar-Hawadi, 2002) mengatakan bahwa kecilnya minat masyarakat terhadap anak berbakat karena adanya pandangan yang keliru di masyarakat bahwa anak berbakat merupakan anak dengan perbatasan antara keadaan gila dan jenius, anak berbakat memiliki jiwa yang berbeda, jiwa yang lenih rentan dibandingkaan mereka yang bodoh.
c. Lewis Terman (dalam Reni Akbar-Hawadi, 2002) anak yang luar biasa kepandaiannya, memiliki reputasi yang buruk karena adanya keyakinan umum bahwa anak-anak tersebut biasanya psikotes atau jika abnormal, dan hampir pasti lebih cepat matang atau berkembang kebodohan purnadewasa.
d. Switzer dan McNource (dalam Reni Akbar-Hawadi, 2002) menyebutkan, di dalam kelas anak- anak berbakat menampilkan diri mereka secara rata-rata saja, sama dengan anak lainnya, karena mereka menyadari bahwa guru pun kurang menyukai anak berbakat yang selalu melontarkan pertanyaan yang menantang dan yang sulit dijawab.
Dengan berbagai anggapan di atas, banyak orangtua yang tidak ingin mempunyai anak yang tergolong anak berbakat bahkan menutupi keberbakatan anak mereka
E. Upaya Pelayanan Anak Berbakat
1. Guru Pembimbing
Dengan menyadari akan keterbatasan guru untuk anak berbakat, terutama untuk tugas mengajar lainnya, dalam memberikan layanan konseling bagi anak berbakat, maka konselor sekolah seharusnya mengambil alih tugas ini dengan penuh tanggung jawab, sehingga konselor mampu menunjukkan kinerja untuk semua siswa, seiring dengan guidance for all.
Untuk dapat menunjukkan kinerja optimal, konselor hendaknya:
a. Terlatih dan teknik konseling secara umum.
b. Sensitif terhadap isu-isu afektif pada berbagai fase perkembangan.
c. Bersedia menyusun mentorship, magang, dan program khusus.
d. Terlatih untuk melaksanakan dan menginterpretasi tes-tes khusus dan inventori.
e. Familiar dengan teknik-teknik bermain peran.
f. Mampu mendiagnosa bidang-bidang masalah berkaitan dengan pengembangan psikososial anak.
Adapun mengenai model dan strategi dalam konseling, Jane Piirto (1994) mengemukakan bahwa secara umum model dan strategi konseling bagi anak berbakat dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Konseling terapetik, dimaksudkan untuk memberikan perlakuan terhadap persoalan yang dihadapi oleh anak berbakat, baik itu berkenaan dengan persoalan sosial-pribadi, akademik, maupun karir. Adapun strategi yang sering menunjukkan efektifitas yang tinggi bagi penyelesaian persoalan anak berbakat, diantaranya sebagai sebagai berikut: pengelompokan dengan teman sebaya, menstrukturkan sistem, pembuatan jejaring, konseling kelompok, terapi pustaka, pemmberian model tokoh keagamaan, mentorship, pemagangan, konseling sebaya, konseling keluarga, konseling individual, dan kelompok pendukung.
b. Konseling preventif, dimaksudkan untuk memberikan pelakuan terhadap anak bebakat dengan berkonsentrasi pada pencegahan akan terjadinya persoalan yang akan muncul di kemudian hari. Adapun strategi yang sering dijadikan pilihan diantaranya: perencanaan akademik yang sesuai mencegah perkembangan kelainan perilaku, mencegah underachievement, mencegah konflik sosial/akademik, menaruh perhatian terhadap kebutuhan afektif terhadap populasi khusus, perencanaan karir, dan menghindari dampak terhadap keluarga.
c. Konseling perkembangan, dimaksudkan untuk memberikan layanan konseling yang berorientasi pada dukungan terhadap pemenuhan kebutuhan anak berbakat untuk tumbuh dan berkembang secara optimal sesuai dengan potensi dan kondisinya. Adapun strategi yang dilakukan diantaranya: memahami kekuatan dan kelemahan, penerimaan diridan pengakuan terhadap keterbatasan anak berbakat, pengembangan internal locus of control, penerimaan kesalahan sebagai pengalaman belajar, keterampilan mengatasi konflik, keterampilan pemecahan masalah, kesadaran, pemahaman dan penerimaan terhadap orang lain, keterampilan berkomunikasi, keterampilan kepemimpinan dan pembuatan keputusan, pengetahuan tentang teknik pengurangan stess, dan kemampuan memandang dirinya sendiri dan kejadian dengan humor.
Pilihan model konseling sangatlah tergantung pada kepentingan konseling, apakah konseling dimaksudkan untuk melakukan pencegahan, melakukan penanganan dan penyelesaian, atau melakukan pengembangan. Artinya kehadiran konseling bagi anak berbakat sangat dinantikan pada saat kapanpun, sehingga tidak ada hari bagi anak berbakat tanpa kebutuhan konseling.

2. Guru Mata Pelajaran
Guru untuk anak berbakat merupakan posisi yang terbaik dalam memberikan bimbingan yang diperlukan oleh anak berbakat. Menurut Utami Munandar (1982) persyaratan yang dituntut dari guru anak berbakat:
a. Persayaratan profesional/pendidikan
1) Berpendidikan minimum S1
2) Sudah berpengalaman mengajar
3) Menguasai berbagai teknik dan model belajar mengajar
4) Menguasai materi pelajaran lebih luas dan mendalam
5) Bijaksana dan kreatif mencapai berbagai akal/cara.
6) Mempunyai kemampuan mengelola kegiatan belajar secara individual dan kelompok di samping secara klasikal.
7) Mengutamakan standar prestasi yang tinggi dalam setiap kesempatan
8) Menguasai berbagai teknik dan model evaluasi
9) Mempunyai kegemaran membaca dan belajar.
b. Persyaratan kepribadian
1) Mempunyai sifat toleransi
2) Bersikap terbuka terhadap hal-hal baru
3) Peka terhadap perkembangan anak
4) Mempunyai pertimbangan yang luas dan dalam
5) Penuh pengertian
6) Mempunyai kreatifitas yang tinggi
7) Bersikap ingin tahu
8) Bersifat adil dan jujur
9) Berdisiplin tinggi.
c. Persyaratan hubungan sosial
1) Suka dan pandai bergaul dengan anak berbakat dengan segala keresahannya dan memahami anak tersebut.
2) Dapat menyesuaikan diri
3) Mudah bergaul dan mampu memahami dengan cepat tingkah laku orang lain.
Selain dari persayaratan di atas, guru hendaknya:
a. Menguasai materi dengan mantap.
b. Dengan sepenuh hati menyukai bidangnya, baik untuk mencambuknya agar selalu mengikuti perkembangannya secara setia maupun untuk menularkan kegairahannya kepada anak-anak asuhannya.
c. Menguasai berbagai strategi berbagai kegiatan belajar mengajar.
d. Mampu mengelola kegiatan belajar mengajar secara individual dan kelompok kecil di samping secara klasikal.
e. Mengutamakan standar prestasi yang setinggi-tingginya di dalam setiap kesempatan, baik untuk siswanya maupun untuk dirinya sendiri. Guru yang menantang siswa berbakat adalah yang selalu menuntut yang maksimal, bukan yang sekedar cukup untuk lulus.
f. Suka bergaul dengan anak-anak berbakat dengan segala “keresahannya”, luwes dalam pendekatan pribadi tetapi tegas dan sistematis di dalam pengaturan kerja.

3. Personil Sekolah Lainnya dan Tenaga Ahli
Para personil sekolah dan tenaga ahli, seperti administrator merupakan lapisan kedua personil pendidikan persekolahan yang dapat membantu (atau menggagalkan) usaha penjaringan serta pembinaan bakat di sekolah. Administrator hendaknya tidak kaku mengikuti aksara petunjuk dan pedoman pengelolaan dan membuka kesempatan bagi guru dan siswa untuk menunjukkan yang lebih baik yang mampu mereka kerjakan.

4. Orangtua
Kebanyakan, orang tua cenderung menuntut terlalu banyak dari anak berbakat dengan maksud mengembangkan bakat-bakatnya semaksimal mungkin. Padahal, anak berbakat pun memerlukan waktu untuk bermain-main, untuk bergaul dengan anak-anak lain, untuk membaca buku-buku biasa dan tidak semata-mata buku pelajaran. Ada sementara orang tua yang karena dulu cita-citanya tidak terkabul berhasrat agar anak merekalah yang dapat meneruskan cita-cita orang tuanya, tanpa memperhatikan bagaimana minat dan kebutuhan anak tersebut.
Di lain pihak ada orang tua yang justru khawatir terhadap suatu perkembangan keterbakatan anak akan membawanya justru pada suatu kehidupan yang tidak wajar. Oleh karena itu, mereka tidak menginginkan pertumbuhan intelektual yang terlalu cepat. Banyak pula guru yang mempunyai kekhawatiran yang sama. Akibatnya mereka dengan sengaja tidak memberikan perhatian khusus kepadanya di sekolah, tidak memberikan kesempatan untuk maju sesuai dengan kemampuan-kemampuan yang unggul.
Orang tua yang bijaksana dapat membedakan antara memberi perhatian terlalu banyak atau terlalu sedikit, antara memberi kesempatan kepada anak untuk mengembangkan bakat dan minatnya dan memberi tekanan untuk berprestasi semaksimal mungkin. Utami Munandar (1982) menyatakan bahwa orangtua hendaknya:
a. Sadar akan keunikan kebutuhan anak untuk semua aspeknya.
b. Memiliki keterampilan sederhana untuk memenuhi kebutuhan anak.
c. Menciptakan lingkungan keluarga yang kondusif bagi kegiatan anak di rumah.
d. Mendampingi anaknya untuk mengunjungi tempat-tempat yang mendidik.
e. Bersedia bekerjasama dengan konselor, guru, dan personal sekolah lainnya untuk kepentingan kemajuan anaknya.
Ada beberapa hal yang dapat memudahkan orang tua agar lebih mantap dalam menghadapi dan membina anak berbakat Ginsberg dan Harrison (1977) diantaranya adalah:
1. Pertama-tama perlu diingat bahwa anak berbakat itu tetap anak dengan kebutuhan seorang anak.
2. Jika ada anak-anak lain dalam keluarga, janganlah membandingkan anak berbakat dengan kakak-adiknya atau sebaliknya.
3. Jangan pula suka membandingkan anak berbakat Anda dengan anak tetangga.
4. Sempatkan diri untuk mendengarkan dan menjawab pertanyaan-pertanyaannya.
5. Berilah kesempatan seluas-luasnya untuk memuaskan rasa ingin tahunnya dengan menjajaki macam-macam bidang, namun jangan memaksakan minat-minat tertentu.
6. Jika anak berbakat ingin mendalami salah satu bidang yang diamati, berilah kesempatan, karena belum tentu kesempatan itu ada di sekolah.
Dengan demikian, orangtua mesti memberikan perhatian dan pelayanan yang maksimal untuk pengembangan potensi anaknya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: